Malaikat Kecil Dan Prajurit Bodoh – (Bagian3) Tugas Bodoh

Sebelum memasuki istana, aku sering kali berjalan mengelilingi taman di luar istana. Melakukan hal bodoh yang menyenangkan seperti memperhatikan putri-putri cantik memetik bunga di taman istana. Dunia ini memang benar-benar indah. Pria selalu terpesona melihat kecantikan wanita, begitu juga denganku. Meskipun mereka tidak bisa menjadi milikku, tapi paling tidak mataku masih bisa menikmati kecantikan mereka.

Kali ini mataku tertuju pada sosok putri cantik yang tak pernah kulihat sebelumnya berada di taman ini. Mungkin dia orang baru disini, atau mungkin saja aku yang kurang bergaul hingga tak pernah melihatnya. Dia sangat cantik sekali. Tak seorangpun dapat mengalihkan perhatianku padanya, sampai pada akhirnya sahabatku Devin menghentikan kereta kudanya disampingku dan menghalangi pandanganku dari padanya.

“Hey sobat, apa yang kau lakukan disini ha? langsung saja kau goda mereka, dasar bodoh!”

“Huh… aku bukan bajingan sepertimu tau!”

“Oh iya, ada tugas untukmu… Marvius ingin bertemu, dari kemarin ia mencarimu!”

Marvius adalah seorang panglima besar yang banyak kali memenangkan peperangan. Anak kesayangannya yang gugur di medan perang beberapa waktu silam, adalah sahabatku sejak kecil. Tak heran bila aku dan beliau begitu dekat. Ia menganggapku seperti anaknya sendiri.

“Okey, aku akan menemuinya sekarang juga.”

Kereta kuda Devin perlahan-lahan bergerak memasuki pintu gerbang istana lalu aku mengikutinya. Belum sedetik kudaku melangkah masuk ke pintu gerbang, mataku dikejutkan dengan malaikat kecil yang terbang menyelinap masuk istana tanpa seorangpun yang melihat kehadirannya kecuali aku.

Malaikat kecil yang kulihat di gereja tua. Entah apa yang hendak dilakukannya dalam istana ini. Penjaga tak merasakan kehadirannya. Sepertinya hanya aku yang bisa melihatnya. Kakiku melangkah lebih cepat masuk kedalam istana, mencoba mencari tahu apa yang dilakukan malaikat kecil di istana megah ini.

Malaikat kecil lenyap. Mungkin ia tahu aku mengejar hingga begitu cepat ia menghilang. Tiap sudut lorong dan ruangan yang kulalui tak berhasil kutemukan, hingga aku sampai di depan pintu ruang kerja Marvius. Cahaya mentari dari jendela besar ruang kerjanya menembus celah kecil daun pintu yang terbuka dan menghangatkan sebagian wajahku.

“Pagi paman!”

“Aleron, mari masuk! Bagaimana kabarmu hari ini?” ia mengundangku masuk dengan mata yang sesaat kembali pada sepucuk surat yang baru saja ingin ia baca.

“Ya, aku baik-baik saja, kata Devin ada tugas untukkku! Benarkah?”

“Sebenarnya bukan tugas, aku hanya mau memintamu mengantar putri Namira ke kota Lasa, wilayah itu belum aman dan kau sangat mengenal wilayah itu, kau mau kan?”

“Apa!!! Mengantar seorang putri?” Aku bangkit dari kursi dan tak percaya dengan tugas yang ia berikan padaku “hohoho… ayolah paman! Berikan aku sebuah misi yang besar. Memimpin sejumlah pasukan untuk mengintai pergerakan musuh, atau menyerang pertahanan negeri Orys yang tak begitu kokoh, atau apalah selain tugas bodoh seperti ini!”

Terkadang aku benci dengan semua orang disekitarku yang selalu meremehkanku sebagai seorang prajurit. Selama aku menjadi seorang prajurit, tugasku hanya mengendarai kereta kuda Marvis yang hanya diam di garis pertahanan akhir. Mengevakuasi orang-orang desa yang akan diserang, atau berpatroli menjaga keamanan negeri yang makmur. Aku bagaikan prajurit bodoh yang tak pernah berhadapan langsung dengan musuh.

Sesaat kesunyian melanda ruang kerja Marvius, ia menatapku dingin sampai suara gesekan pintu terdengar nyaring memukul kesunyian sesaat. Ada seseorang menguping pembicaraan kami. Segera aku memeriksa siapa yang ada dibalik pintu. Tampak putri Namira berlari dan hilang tersebunyi tembok di ujung lorong, dan betapa terkejutnya aku mendengar malaikat kecil tertawa yang duduk diatas lampu hias, lalu tersenyum padaku dan terbang menyusul Namira.

***

[ bersambung… ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anti Spam!! Isi jawaban di bawah *


DMCA.com