Malaikat Kecil Dan Prajurit Bodoh – (Bagian4) Namira

Namira berasal dari keluarga petinggi Azara. Ayahnya adalah seorang anggota senat pemerintah. Ia bersahabat dengan putra putri bangsawan negeri ini. Rumah kakek dan neneknya di desa Lasa hancur diserang kaum Astarian dua bulan yang lalu. Aku tak tahu banyak tentangnya dan ia juga tak tahu banyak tentangku, yang ia tahu aku bersahabat dengan beberapa kesatria terhebat di negeri ini.

“Pergilah sekarang…! jangan sampai malam menunggu kalian tiba disana” Tegas Marvis

Hari ini mungkin akan jadi begitu hebat untukku. Mendapat tugas bodoh dari Marvis dan seorang putri tersinggung oleh karna ucapanku! Benar-benar hebat skali. Entah hal bodoh apa lagi yang akan kujumpai di hari ini. Kukeluarkan kereta kuda yang telah disiapkan sebelumnya dari lantai dasar istana dan berhenti di depan pintu utama istana. Tampak putri Namira duduk diam menunggu, lalu kubuka pintu kereta yang tampak kokoh dengan ukiran lambang kekaisaran Azara.

“Masuklah… kita tak punya banyak waktu untuk tiba disana!” sesaat aku menatapnya dan ia hanya terdiam.
“Jika kau tak mau mengantarku, kau bisa mencarikan aku prajurit lain untuk menggantikanmu” Hhmmm… tampaknya apa yang ia dengar tadi membuatnya berpikir bahwa aku tak perduli dengannya. Tak tahu harus berkata apa, aku hanya bisa tersenyum sesaat sampai akhirnya ia mau naik ke kereta yang akan membawanya tiba ke desa Lasa.

Malaikat kecil mengikuti kami dalam perjalanan. Ia terbang tepat diatas kereta dan hilang terhalang rusuh dedaunan hutan yang tertiup angin. Dari kejauhan aku melihatnya duduk dipinggir jalan dan tersenyum padaku sewaktu melewatinya. Kemudian ia terbang begitu cepat mendahului laju kereta. Keluar dari hutan, kembali aku melihatnya bermain mengejar kupu-kupu di padang rumput yang kulalui.

Siang berlalu dan kami tiba di desa Lasa. Kereta kuda akhirnya berhenti di gereja tua dimana aku bertemu dengan malaikat kecil kemarin. Sejenak aku berpikir pasti ada hubungan antara Namira dan malaikat kecil.
“Hey apa tadi kau melihat malaikat kecil dalam perjalanan tadi?” Aku bertanya sambil menurunkan dan membawa masuk barang kedalam gereja.

“Malaikat kecil? Siapa yang kau maksud? Aku tak melihat siapapun di hutan itu.” Namira ikut membawa barang yang tersisa dalam kereta. Kukira ia juga bisa melihat malaikat kecil, tapi ternyata tidak.

Dibelakang gereja ada beberapa anak kecil yang terkejut dan tampak begitu gembira menyambut kedatangan kami. Mereka adalah anak-anak korban penyerangan yang kehilangan orang tuanya. Namira membuka dua kotak kayu yang dibawanya, berisi makanan lezat dan dibagikan kepada anak-anak itu. Sebuah senyuman tulus tercipta di wajahnya sewaktu membagikan makanan. Sebagai putri seorang petinggi pemerintahan, ia tidak sombong dan baik hati, membuatku kagum atas apa ia lakukan untuk anak-anak itu.

“Hhmmm… apa masih ada yang kau ingin aku lakukan untukmu?”

“Terima kasih Aleron! Kau boleh meniggalkan aku dan anak-anak ini disini”

“Baiklah” lalu aku pergi menuju pos pertahanan di ujung desa Lasa yang sekaligus menjadi batas negeri Azara.

***

[ bersambung… ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anti Spam!! Isi jawaban di bawah *


DMCA.com