Malaikat Kecil Dan Prajurit Bodoh – (Bagian6) Altar Gereja

Dinginnya udara pagi berhembus masuk kedalam kemah yang terbuka lebar, membangunkan aku yang terlelap penuh damai. Masih terlalu pagi, Devin dan pasukannya membuat upacara pemakaman ditengah-tengah embun pagi yang pekat untuk para prajurit yang tewas. Rogan dan Larson masih terlelap tanpa mimpi. Aku naik keatas menara pengawas. Sejenak mengamati upacara yang berlangsung penuh hikmat. Belum habis nyala api yang membakar jasad para prajurit, aku pergi meninggalkan upacara. Kupikir tak ada gunanya aku berada di pos pertahanan ini, lebih baik aku berjalan mengitari desa dan mengamati seberapa buruk kerusakannya, lagipula kaum Astarian tak mungkin kembali menyerang dalam waktu dekat ini.

Di persimpangan jalan yang sepi dari kesibukan desa pada umumnya, kudaku terus berjalan perlahan mendekati gereja tua. Dari kejauhan terdengar keceriaan anak-anak yang bermain di depan gereja. Terlihat Namira masuk kedalam gereja. Ingin melihat apa yang dilakukannya, kuikatkan kudaku di pagar kayu yang tampak kusam tak terawat, lalu diam-diam aku ikut masuk kedalam gereja. Aku duduk di bangku belakang, memperhatikan Namira yang mengambil tiga batang lilin dan menyalakannya diatas meja.

“Apa yang kau lakukan disini Aleron?” Tiba-tiba malaikat kecil mengejutkanku, ia muncul begitu saja duduk di sampingku.

“Aku hanya ingin melihat apa yang Namira lakukan disini, siapa namamu teman kecil? kau belum perkenalkan dirimu padaku!”

“Aku Leora, aku menjaga orang-orang baik sepertinya.”

Namira duduk sendiri di bangku terdepan, ia melipat tangan, menutup mata dan berdoa. Tiba-tiba saja tampak langit-langit gereja bercahaya menyilaukan. Menerangi tiap sudut ruang gereja yang begitu besar. Lalu langit-langit itu pecah, membentuk kepingan kristal-kristal kaca yang hilang tanpa terjatuh ke lantai gereja. Atap gereja lenyap. Luasnya langit biru nampak menyelimuti sekumpulan awan. Betapa terkejutnya aku, melihat ratusan malaikat kecil berterbangan di atas gereja. Sebagian dari mereka masuk dan duduk manis memenuhi altar gereja, mendengarkan doa Namira yang tak bisa kudengar.

“Mereka yang duduk di altar berasal dari roh anak-anak korban perang dan Namira pernah menjaga dan merawat mereka.” kata Leora

Terdorong rasa penasaran dengan keajaiban ini, aku datang mendekati Namira dan duduk disampingnya. Beberapa dari mereka tersenyum menatapku dan meletakkkan jari telunjuk di bibir “Sssssstttt… !!” Beberapa saat kemudian mereka berhamburan terbang meninggalkan gereja, dan dua malaikat kecil menutup atap gereja bagai tirai hingga kembali seperti sediakala. Leora satu-satunya malaikat kecil yang tersisa bersama kami.

 

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anti Spam!! Isi jawaban di bawah *


DMCA.com