Malaikat Kecil Dan Prajurit Bodoh – (Bagian2) Aku Dan Impianku

Pagi hari yang cerah, secerah wajahku yang melukiskan isi hatiku setelah apa yang terjadi kemarin. Tajamnya cahaya mentari membangkitkan aku dari kasur yang sering membawaku kedalam mimpi-mimpi  indah. Seekor kuda putih jantan kesayanganku keluar dari kediamannya. Milikku yang paling berharga. Makhluk yang kutemukan terjerat dalam semak belukar di hutan hujan. Meskipun tidak begitu gesit, ia cukup setia menemaniku pergi ke istana menjalankan tugas sebagai seorang prajurit di negeri Azara.

Aku tidaklah sehebat para kesatria tangguh yang selalu diandalkan dalam setiap peperangan. Aku hanya salah seorang dari antara ribuan prajurit biasa yang terlahir dari keluarga petani sederhana. Aku adalah anak bungsu dengan dua orang saudara laki-laki dan perempuan.

Ayahku memberiku nama Aleron yang berarti bersayap. Sebuah nama yang hadir dalam benaknya setelah bermimpi  bertemu seorang malaikat pelindung yang menjaga hutan terlarang di sebelah timur sungai Paz. Ia dikenal sebagai seorang petani perkerja keras yang sukses menjadi tuan tanah dengan banyak pekerja. Sosok ayah yang baik hati dan terhormat, bagiku ia seorang kepala keluarga yang sangat menyayangi keluarganya. Hasil kerja kerasnya patut kubanggakan, semua dilakukannya untuk memberikan apa yang terbaik bagi anak-anaknya, walaupun sulit untuk dirinya mengerti bahwa apa yang terbaik baginya belum tentu menjadi apa yang terbaik bagi anak-anaknya.

Dua orang saudara yang kumiliki bagaikan malaikat dan iblis. Saudara perempuan tertua adalah seorang kakak yang baik, ia sangat perduli dan memperhatikan adiknya. Saudara laki-laki bagiku hanyalah seseorang yang telah gagal dan tak akan pernah bisa menjadi seorang kakak untukku, ia sangat tak bersahabat dan mementingkan dirinya sendiri.

Lalu bagaimana dengan diriku? Terkadang aku tak tahu siapa diriku! Yang aku tahu, aku hanya punya sebuah impian besar menjadi kesatria terhebat di negeri ini. Beberapa sahabatku banyak yang menjadi seorang kesatria hebat, mereka selalu mengajarkanku bagaimana menjadi seorang kesatria tangguh, namun aku tak pernah berhasil menjadi kuat seperti mereka, bagi mereka aku hanyalah seorang prajurit bodoh yang malas berlatih dan takut kehilangan nyawanya di medan perang. Aku bukannya takut mati, tapi aku tidak mau mereka menangisi kematianku seperti aku menangisi beberapa sahabatku yang pernah gugur.

***

[ bersambung… ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anti Spam!! Isi jawaban di bawah *


DMCA.com